IPAL Industri Tahu

Salah satu dampak yang dihasilkan oleh air limbah salah satunya adalah gas. Gas yang dihasilkan dari kegiatan produksi pada pabrik tahu dapat diolah menggunakan IPAL industri tahu. Pengolahan tersebut nantinya akan dijadikan sebagi salah satu energi alternatif yang bernama energi biogas.

Limbah cair yang dihasilkan oleh industri tahu dapat dikatakan memiliki jumlah debit yang besar. Untuk setiap 1 kg produksi tahu biasanya akan membutuhkan jumlah air sekitar 45 liter. Sedangkan setiap 45 liter air tersebut akan menghasilkan whey tahu yang mengandung bahan-bahanĀ  organik seperti protein, karbohidrat, lemak, serta minyak yang tinggi sebanyak 43,5 liter.

Limbah cair tahu tersebut biasanya akan memiliki karakteristik yang mengandung bahan organik tinggi, dengan suhu mencapai 40oC sampai 46oC, lalu memiliki kadar BOD5 sebesar 6.000 sampai 8.000 mg/l, dan memiliki kadar COD sebesar 7.500 sampai 14.000 mg/l. Dan mengandung juga TSS dan Ph yang bisa dikatakan cukup tinggi pula.

Dilihat dari keseluruhan kandungan bahan organik yang dimiliki limbah tahu maka tentu jika tidak dilakukan pengolahan dengan baik limbah tahu tersebut akan mencemari lingkungan. Oleh karenanya penggunaan IPAL sangat disarankan untuk meminimalisir dampak buruk yang dihasilkan limbah tahu.

Adapun bentuk dari desain proses IPAL yang akan digunakan oleh industri tahu adalah sebagai berikut:

  1. Seluruh limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi tahu akan dialirkan menuju bak pemisah lemak dengan melalui saluran limbah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan minyak yang mungkin memiliki jumlah yang cukup banyak di dalam limbah tahu.
  2. Setelah sukses melalui bak pemisah lemak, air limbah dari produksi tahu akan dialirkan kembali menuju bak ekualisasi. Bak ini berfungsi sebagai penampung limbah dan kontrol aliran air limbah tahu. Dari bak inilah nantinya limbah akan menjadi limpasan limbah cair.
  3. Setelah menjadi limpasan limbah cair maka limbah tahu akan dialirkan menuju bak anaerob dengan aliran dari atas ke bawah yang dilengkapi biakan melekat aliran turun. Bak anaerob tersebut biasanya dapat menggunakan media biofilter yang berupa susunan plastik yang berbentuk silang.
READ  Pemanas Air Tenaga Surya : Solahart

Di dalam bak anaerobik ini nanti akan terdapat mikroorganisme yang telah tumbuh selama beberapa hari. Mikroorganisme ini nanti yang akan bertugas menguraikan limbah dan membuatnya terbebas dari bahan-bahan organik tahap pertama yang dapat membahayakan lingkungan.

  1. Setelah dari bak anaerobik pengolahan akan dilanjutkan dengan bak aerobik. Pengolahan ini dilakukan dengan menggunakan sistem aerasi yang menggunakan blower sehingga mikroorganisme akan kembali menguraikan zat-zat organik yang menempel pada limbah tahu.
  2. Limbah cair yang telah berhasil diolah menggunakan sistem aerobik akan disalurkan lagi menuju bak penjernih. Dari sini akan ada proses pemisahan minyak yang masih menempel dalam limbah tahu dengan menggunakan media lumpur yang berada pada bak penjernih.
  3. Minyak atau lemak yang telah mengapung pada bak penjernih nantinya akan dikikis menggunakan scraper dalam hitungan waktu selama 1 sampai 2 minggu sekali tergantung dari berapa banyak minyak yang dihasilkan. Scraper dapat menggunakan alat berupa serok, stainless pipih panjang, kayu, atau yang lain.
  4. Setelah itu lemak atau minyak yang telah dikikis oleh scraper secara manual akan dikumpulkan lalu dibuang menuju petugas kebersihan yang berada di kampung atau dinas terkait kebersihan yang dapat menampungnya. Untuk limbah yang telah bersih dapat digunakan kembali sesuai kebutuhan.

Berkaitan dengan pengolahan air limbah industri tahu, faktanya masih banyak industri yang belum menggunakan IPAL sebagai solusinya. Sehingga limbah yang dihasilkan dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu bagi pemilik industri tahu yang mungkin membutuhkan IPAL sebagai upaya menjaga kesehatan lingkungan dapat melihat informasi mengenai detail jasa pembuatan ipal klik di sini : kontraktor IPAL

Comments are closed.